Terjerat Pinjaman Online Paralegal Gagal Gasak Brankas LBH Bali

Denpasar – Seorang relawan di YLBHI LBH Bali berinisial IKAN nekat mencoba mencongkel brankas kantornya sendiri. IKAN nekat beraksi lantaran terjerat pinjaman online. Dalam sidang online dengan pembacaan dakwaan di Ruang Sidang Candra Pengadilan Negeri Denpasar pada Kamis 25 Maret 2021, terungkap bahwa terdakwa IKAN pada hari Kamis tanggal 31 Desember 2020 sekira pukul 13.00 WITA atau setidak-tidaknya pada suatu waktu tertentu dalam bulan Desember tahun 2020, bertempat di bertempat di Kantor LBH Bali Jalan Plawa No. 57 Denpasar Timur, Kota Denpasar, terdakwa diduga mencoba mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum.

“Terdakwa diduga hendak membongkar brankas bagian keuangan LBH Bali dengan palu dan linggis. Niat terdakwa tiba-tiba muncul ketika datang ke Kantor LBH Bali untuk istirahat. Awalnya setelah masuk ke dalam ruangan tengah, IKAN kemudian istirahat sambil menonton Televisi. Terdakwa kemudian melihat pintu keuangan tidak dikunci sehingga saat itu timbul niat untuk masuk ke ruangan keuangan mengambil sesuatu. Kemudian terdakwa masuk ke dalam ruangan dan terdakwa melihat ada brangkas dibawah meja, lalu terdakwa  melihat-lihat brankas tersebut dan dalam keadaan terkunci,” ujar Jaksa I Gusti Lanang Suyadnyana, dalam dakwaan yang dibacakan secara online dari Gedung Kejaksaan Negeri Denpasar.

Kemudian terdakwa  menutup camera CCTV dengan lakban warna hitam. Baru kemudian terdakwa keluar ruangan untuk mencari alat untuk membuka pintu brankas. Setelah terdakwa mencari didepan kamar mandi terdakwa menemukan sebuah linggis lalu linggisnya terdakwa ambil Kembali terdakwa menuju ke dalam ruangan keuangan dan di pintu masuk dekat ruangan keuangan terdakwa lihat ada palu lalu terdakwa ambil setelah itu terdakwa masuk ke dalam ruangan keuangan menuju ke brankas yang posisinya dibawah meja, lalu terdakwa mengeser meja setelah itu terdakwa mencongkel mencongkel pintu brankas denga linggis setelah terdakwa coba beberapa kali tidak bisa terbuka setelah itu terdakwa keluar sambil membawa palu dan linggisnya terdakwa tinggalkan diatas brankas, kemudian terdakwa menuju ke kamar mandi untuk mandi.

Setelah terdakwa selesai mandi tiba–tiba di dalam kantor sudah banyak orang. Dia kemudian sempat diam dalam kamar mandi, hingga kemudian ada warga  mendekati terdakwa dan meminta terdakwa untuk keluar dari kamar mandi. Setelah terdakwa keluar langsung terdakwa diborgol dan terdakwa pun ditanya dan terdakwa mengakui bahwa terdakwa yang mencoba mencongkel brankas di meja keuangan setelah itu terdakwa langsung diamankan ke Polsek Denpasar Timur.

Dalam persidangan ini, Jaksa menunjukkan sejumlah barang bukti diantaranya foto yang diambil dari rekaman CCTV dimana terdakwa tampak melompati pintu pagar luar LBH Bali. Kini, Terdakwa dijerat dengan Pasal 363 Ayat (1) ke-5 Jo pasal 53 Ayat (1) KUHP oleh Jaksa Penuntut Umum.

Kuasa Hukum terdakwa, I Ketut Suhita, S.H., ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa kliennya mencoba mencongkel brankas keuangan kantor. Dia menegaskan bahwa terdakwa sudah sering datang ke kantor LBH Bali untuk beristirahat. Sebab terdakwa adalah salah satu Paralegal yang diandalkan dalam kegiatan LBH dalam memberikan bantuan hukum bagi masyarakat kurang mampu, sejak satu setengah tahun terakhir.

“Sebelumnya maksud dan tujuan terdakwa datang ke kantor LBH Bali adalah untuk beristirahat namun setelah terdakwa berada di dalam kantor melihat pintu keuangan tidak kunci secara tiba-tiba ada niat mencari sesuatu di dalam ruangan tersebut untuk terdakwa ambil. Tapi terdakwa tidak berhasil mengambil barang di dalam ruangan keuangan dikarenakan pintu brankas tidak bisa dibuka dengan menggunakan linggis lalu terdakwa keluar ke kamar mandi untuk mandi setelah selesai mandi terdakwa berniat kembali ke ruangan tengah dan keruangan keuangan untuk bersih2 dan mengambil pakaian, tapi tiba-tiba sudah ada banyak orang yang ada di dalam kantor,” beber Ketut Suhita.

Salah satu pendiri LBH Kampus UTI Nusa Dua ini menjelaskan, bahwa klien yang juga temannya dalam komunitas bantuan hukum itu khilaf sesaat karena terjerat pinjaman online. Terdakwa terjerat pinjaman online karena sebelumnya punya hutang, sebab biaya kuliahnya tidak diberikan oleh orangtuanya. “Habis biaya cukup banyak ketika menyusun skripsi. Ketika sebelum menyusun skripsi biayanya masih bisa dicover dengan bekerja di beberapa tempat. Terlebih sejak setahun terakhir situasi ekonomi sangat sulit akibat pandemi Covid19.

Penasehat Hukum terdakwa lainnya, Wayan Vajra FJ, SH, menyesalkan kasus ini bisa sampai ke meja hijau. Seharusnya kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Apalagi terdakwa sudah seperti bagian dari keluarga LBH Bali.

“Semoga bukan karena ada “Persaingan tidak Sehat” yang ada di Lembaga yang menjadi naungan klien kami. Karena seharusnya kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan dengan adanya asas Restoratif Justice. Berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif dan Surat Edaran Kapolri, SE/8/VII/2018, tentang Penerapan Keadilan Restoratif dalam Penyelesaian Perkara Pidana, seharusnya kasus ini dapat diselesaikan di luar Pengadilan,” sesalnya.

Sementara itu, I Wayan Adi Aryanta SE SH MH, mengaku kecewa karena kliennya tidak segera mendapat pendampingan hukum. Tim Kuasa Hukum baru mendapatkan kuasa sebagai Penasehat Hukum setelah terdakwa diBAP atau diperiksa sebagai tersangka oleh Penyidik.

Alumni Magister Ilmu Hukum Universitas Jayabaya, Jakarta ini mengaku memang tidak meragukan kualitas IKAN selaku paralegal. Namun, Iwa mengaku meragukan kemampuan kliennya untuk dapat menilai kasusnya sendiri secara objektif.

“Logikanya begini, seorang dokter sudah terbiasa untuk menyuntikkan vaksin dan obat ke tubuh pasien. Tapi, sanggupkah dia menyuntikkan obat atau vaksin ke tubuhnya sendiri dengan dosis dan titik injeksi yang optimal? Hal yang sama dengan sudut pandang psikologi dan objektifitas dalam memahami permasalahan juga berlaku bagi Agus,” sambung mantan wartawan radio ini.

Kini tim kuasa hukum yang membantu mendampingi terdakwa berharap agar Majelis Hakim dapat menilai kasus yang dihadapi kliennya dengan jernih dan objektif. Mereka akan memberikan bantuan hukum terbaik yang mereka mampu, walau tidak dibayar secara materi oleh sang Klien. (iwa)