IWA Aryanta SE SH MH

IWA Aryanta terlahir dari keluarga petani ternak pada medio 80an. Sang Bapak sesungguhnya adalah seorang guru sekolah dasar, namun meninggal ketika Iwa berusia sekitar 7 tahun.

Masa kecil kurang bahagia pun tak ayal menjadi kenangan yang tidak dapat dihindari. Sang ibu harus bekerja ekstra sebagai penggali batu untuk fondasi pembuatan rumah, disamping sebagai peternak sapi.

Beruntung, Iwa dikelilingi orang-orang baik yang memberikan uang saku, walau harus terlebih dahulu membantu. Seperti membantu memungut buah Kapuk yang dipanen, mengumpulkan biji dari buah jambu Mede, memanen kacang tanah, dan kerjaan-kerjaan receh lainnya dilakoni anak bungsu dari lima bersaudara ini dengan gembira.

Selama kurang lebih lima tahun profesi tersebut, dan kerjaan-kerjaan lainnya dilakukan demi uang saku. Tak ayal, gizi yang kurang cukup membuatnya terlihat ceking. Dalam interval waktu inilah Iwa mendapat nama panggilang i Bontang. Ini adalah kepanjangan dari bontok lantang (pendek-panjang). Karena terlihat tinggi ketika berdiri sendiri, namun paling pendek ketika berdiri bersama anak-anak sebaya.

Memasuki bangku SMP, beberapa pekerjaan lainnya membantu menaikkan jumlah uang saku. Sebut saja memelihara dan mencari makanan sapi ke hutan. Dan juga, menjadi tukang kebun di salah satu rumah pada kawasan perumahan para pendatang.

Selepas SMP, Iwa melanjutkan ke Sekolah Teknologi Menengah (STM) 1 Badung. STM yang sekarang menjadi SMKN 1 Kuta Selatan. Itu pun karena terpaksa, karena sesungguhnya Iwa ingin melanjutkan ke sekolah pariwisata. Apa daya, karena biaya tidak ada dan orang tua dan salah satu paman jauh memaksa, bangku STM pun dijalani dengan warna-warni kenakalan remaja yang semakin menjadi. Sebut saja diantaranya rokok dan minuman keras. Alhasil, hanya satu skill yang diperoleh pada bangku STM yang sangat Awet hingga kini, mengemudikan mobil.

Pada masa SMA, profesi sebagai peternak sapi dan tukang kebun masih dilakoni. Ditambah dengan ikut-ikutan bermain gamelan, entah itu di acara-acara adat dan keagamaan serta di hotel dan objek wisata.

Masa SMA ini, adalah masa-masa yang antiklimaks bagi Iwa. Ketika duduk di bangku kelas dua, Iwa sempat muntah darah segar selama berhari-hari. Kenangan yang tidak akan mungkin terlupakan hingga kini. Barangkali, rokok dan konsumsi alkohol sejak kelas dua SMP menjadi pemicu utama-nya.

Trauma itu membuatnya berusaha keras untuk berhenti merokok dan minum alkohol. Walau sangat susah untuk dilakukan. Hingga butuh waktu berbulan-bulan. Beruntung ada sebuah metode olah jiwa dan raga dari Tiongkok, Falun Dafa (Falun Gong) yang gratis, yang membantunya. Ada sejumlah praktisi Falun Dafa yang berbaik hati yang mendukungnya untuk berhenti merokok dan minum alkohol.

Selepas STM, perselisihan di tengah keluarga yang tidak henti-hentinya membuat Iwa sangat tidak nyaman. Iwa sempat nekat merantau ke Jakarta, sekitar tahun 2003, walau hanya bertahan selama tiga bulan, dan akhirnya kembali lagi ke Bali.

Selanjutnya, sejumlah pekerjaan dilakoni, seperti menjadi kurir ikan laut di perusahaan suplier untuk hotel-hotel dan restoran. Pernah juga menjadi kurir distributor produk telepon seluler, hingga menjadi wartawan lepas.

Pada akhir 2009, Iwa kembali mencoba peruntungan ke Ibukota. Kali ini karena menemani sang istri yang baru beberapa bulan dinikahi, yang diterima bekerja di Jakarta. Di Jakarta, Iwa melanjutkan perjuangannya menjadi wartawan lepas, walau hanya lulusan STM.

Pada 2012, Iwa nekat mulai kuliah di Universitas Terbuka Yogyakarta. Motivasi utamanya adalah sang Istri yang tengah menempuh studi S2 di UGM.

Pada 2015, S1 Manajemen (SE) berhasil diselesaikan setelah menempuh studi selama 7 semester di tiga kota berbeda, Yogyakarta, Jakarta, dan Singkawang, sambil bekerja lepas dan serabutan. Diantaranya sebagai wartawan lepas, penulis fiksi, serta editor buku novel, dan kurir buku di sebuah penerbit komik.

Sedikit sedih, karena undangan wisuda di UT Pusat Pondok Cabe (Tangerang Selatan/di Selatan Jakarta) tidak dapat dipenuhi karena satu dan lain hal. Ijasah SE hanya diambil begitu saja tanpa seremonial di UPBJJ UT Pontianak.

Pada 2016, Iwa kembali mendaftar di UT. Kali ini dengan memilih jurusan Ilmu Hukum. Ijasah SH pun diraih setelah menempuh pendidikan selama 6 semester di dua kota berbeda, Singkawang dan Jakarta. Ketika masih kuliah S1 hukum di UT (awal 2018) Iwa memulai kuliah di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Jayabaya di Jakarta.

Ijasah SH berhasil diraih dengan wisuda di UT Pusat, Pondok Cabe, Tangerang Selatan pada akhir 2019. Sementara ijasah MH diperoleh pada awal 2020, setelah menyelesaikan ujian Tesis tentang LPD dalam sistem hukum Indonesia. Wisuda ditiadakan karena Pandemi Covid19.

Kini, setelah pindah kembali ke Bali, IWA Aryanta, S.E.,S.H.,M.H., mencoba menekuni profesi baru sebagai pengacara atau advokat sejak akhir 2020. Tentu saja dengan tetap mengambil pekerjaan-pekerjaan lain untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup dan menikmati hidup.

Petualangan di ‘pengungsian’ memberikan kesan yang membekas, bahwa hidup bukan untuk disesali dan diratapi, hidup adalah untuk dijalani dan dinikmati. Kesan inilah yang kemudian membawanya untuk mengisi waktu luang untuk bergabung dalam gerakan solidaritas di PSI, untuk sekedar menjaga dan merawat idelisme.

I Wayan Adi Aryanta, S.E.,S.H.,M.H.

WA 081212083399