Inilah Syarat Rehabilitasi Bagi Pecandu Narkoba

Memiliki dan menyimpan narkotika dan obat-obatan berbahaya bisa menjadi masalah pidana bagi seseorang. Tidak tanggung-tanggung, ancaman hukuman penjara menanti, khususnya bagi mereka yang menyimpan narkoba untuk dijual atau diedarkan.

Namun, bagi mereka yang menyimpan narkoba untuk dikonsumsi sendiri seperti untuk alasan kesehatan dan karena terlanjur kecanduan, ada celah besar untuk terhindar dari hukuman penjara dan hukuman pidana lainnya.

Celah besar itu dikenal dengan istilah rehabilitasi. Rehabilitasi adalah solusi guna membuat pengguna narkoba agar bisa terbebas dari ketergantungan dalam menggunakan obat-obatan berbahaya. Dimana rehabilitasi merupakan suatu prosedur medis tertentu.

Berdasarkan Undang-Undang  Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotiba diwajibkan untuk menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Rehabilitasi medis adalah pengobatan dan pemulihan kondisi kesehatan bagi korban. Sementara rehabilitasi social adalah upaya pemulihan mental para pecandu.

Berdasarkan Pasal 55 Undang-Undang Narkotika, rehabilitasi dapat dilakukan berdasarkan permohonan. Suatu permohonan rehabilitasi diawali dengan laporan oleh si pecandu atau keluarga ke lembaga rehabilitasi medis dan sosial.

Laporan juga bisa langsung dilakukan ke Badan Narkotika Nasional (BNN). Bahkan laporan bisa dilakukan secara online.

Sayangnya, tidak semua pecandu narkoba memiliki kesadaran untuk melaporkan diri sebagai korban penyalahgunaan narkoba. Sehingga tidak menutup kemungkinan, pecandu tersebut ditangkap oleh aparat penegak hukum ketika menyimpan atau mengkonsumsi obat-obatan tersebut.

Sehingga BNN kemudian akan melakukan analisa, apakah seseorang yang ditangkap memang hanyalah korban atau bagian dari komplotan pengedar dan pedagang narkoba. Jika orang yang ditangkap murni korban, maka BNN akan langsung melimpahkannya ke fasilitas rehabilitasi. Sementara jika ada bukti kuat bahwa penyimpan narkoba adalah bagian dari sindikat perdagangan narkoba, maka orang tersebut akan diproses berdasarkan aturan hukum pidana.

Jika orang yang bersangkutan adalah pecandu, namun ada bukti yang cukup bahwa pecandu tersebut adalah bagian dari sindikat perdagangan narkoba, maka dia akan diproses hukum dan hakim yang akan memutuskan apakah orang tersebut di hukum pidana atau cukup direhabilitasi saja.

Dimana berdasarkan Pasal 103 UU Narkotika, pada ayat (1) ditegaskan, “Hakim yang memeriksa perkara Pecandu Narkotika dapat:

  1. memutus untuk memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi jika Pecandu Narkotika tersebut terbukti bersalah melakukan tindak pidana Narkotika; atau
  2. menetapkan untuk memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi jika Pecandu Narkotika tersebut tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana Narkotika.

Pada Ayat (2) kemudian tertulis, “Masa menjalani pengobatan dan/atau perawatan bagi Pecandu Narkotika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diperhitungkan sebagai masa menjalani hukuman.

Jadi, jika anda menemukan keluarga atau tetangga yang menjadi pecandu narkoba, maka ada dua kemungkinan. Dia adalah korban penyalahgunaan narkoba, atau bisa jadi dia adalah bagian dari sindikat perdagangan narkoba.

Namun, tidak menutup kemungkinan, korban yang sudah kecanduan direkrut menjadi pengedar, pengecer atau kurir oleh sindikat. Salah satu pemicunya adalah masalah ekonomi.

Jadi, sebaiknya tindak lanjuti lebih awal dengan Rukun Tetangga dan tokoh masyarakat setempat, jika anda menemukan adanya indikasi korban penyalahgunaan narkoba di sekitar anda. Hal ini diperlukan agar masalah tersebut tidak menjadi semakin besar di kemudian hari.