Contoh Surat Gugatan Perbuatan Melawan Hukum

SHMH – Gugatan adalah tuntutan atau permintaan atas hak yang mengandung sengketa dengan pihak lain dalam lapangan hukum perdata. Gugatan biasanya dilakukan oleh seseorang atau lebih yang merasa haknya telah dilanggar, namun pada sisi lain orang yang melanggar hak orang lain tidak bersedia memenuhi permintaan tersebut, baik secara sengaja maupun karena bersikeras tidak memiliki kewajiban tersebut.

Berikut adalah contoh surat gugatan yang disusun berdasarkan hasil putusan pengadilan, dengan perbaikan seperlunya.

 

SURAT GUGATAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM

Kepada Yth:

Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

Jl. Ampera Raya No.133, Ragunan

Pasar Minggu, Jakarta Selatan

 

Perihal                         : Gugatan Perbuatan Melawan Hukum dan Tuntutan Kerugian

Lampiran                     : Surat Kuasa Khusus

 

Dengan Hormat,

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya:

Sadari, S.H., Advokat pada Law Firm Nusa Indah & Patners beralamat di Wisma Haroen No.2 A Pancoran, Jakarta Selatan. Berdasarkan Surat Kuasa Khusus pada tanggal 10 Oktober 2018, bertindak untuk dan atas nama:

Nama                           : Cinta Luna, SH

Kewarganegaran         : Indonesia

Alamat                                    : Jl. Jagakarsa No. 17 RT.14/RW.06

Pekerjaan                     : Pengacara

Agama                         : Islam

Dalam hal ini memilih tempat kediaman hukum (domisili) di kantor kuasanya diatas, yang selanjutnya disebut  sebagai PENGGUGAT.

Dengan ini penggugat hendak mengajukan gugatan terhadap:

Nama                           : dr.Mawar

Kewarganegaraan       : Indonesia

Alamat                                    : Jl. Mangga No.18 Kemang, Jakarta Selatan

Pekerjaan                     : Dokter umum di Rumah Sakit Sehat Sejahtera

Agama                         : Islam

Yang selanjutnya disebut sebagai TERGUGAT I

 

Nama                           : dr. Indro

Kewarganegaraan       : Indonesia

Alamat                        : Jl. Metro Duta Kav UE, Jakarta Selatan

Pekerjaan                     : Dokter dan Direktu Utama Rumah Sakit Sehat Sejahtera

Agama                         : Islam

Yang selanjutnya disebut sebagai TERGUGAT II

 

Nama                           : PT Sehat Tapi Pura-Pura Sakit

Alamat                                    : Jl. Metro Neosantara, Jakarta Selatan

Sebagai                        : Selaku pemilik Rumah Sakit Sehat Sejahtera

Yang selanjutnya disebut sebagai TERGUGAT III

 

Adapun yang menjadi alasan dan dasar gugatan perbuatan melawan hukum ini adalah sebagai berikut:

1. Bahwa pada tanggal 1 Agustus 2018 Penggugat membawa anak Penggugat (Almarhum Aryasena SA) ke Unit Gawat
Darurat (UGD) Rumah Sakit Sehat Sejahtera untuk memperoleh pertolongan medis setelah terjatuh di tangga rumah dan terjadi benturan pada bagian kepala.

2. Bahwa adapun kronologis kejadian tersebut adalah sebagai berikut : Suami Penggugat (Wyasa Santosa) keluar bersama Almarhum dari kamarnya yang berada di lantai 2 bersebelahan dengan tangga dan Almarhum terpeleset dari anak tangga no. 4 ke 3 dan Suami Penggugat berusaha memegang badannya tetapi badannya sudah jatuh dan kepala bagian belakang membentur dinding bordes tangga. Suami Penggugat kemudian meletakkan badan Almarhum di lantai bordes dan memanggil Penggugat. Pada saat itu Almarhum masih sadar dan Suami Penggugat
bertanya apakah kepala Almarhum sakit dan Almarhum menjawab “sakit sekali, Ayah”. Mendengar ada suara keras Penggugat terbangun dari tidur dan mencari suara dan menemukan suara itu di bordes tangga, lalu Penggugat naik ke lantai bordes dan berusaha menenangkan Almarhum sambil memanggil nama Almarhum sebanyak 2 x dan setiap dipanggil namanya Almarhum menoleh ke Penggugat, lalu Penggugat menuntun membaca La ilaha illallah dan mengucapkan 2 kalimat syahadat, lalu Penggugat bergegas mandi asal dan berganti baju dengan membawa al
Qur’an ke bordes, lalu membaca al Qur’an dimulai dengan Al Fatehah dan Al Baqorah ayat 1 s/d 5 dan saat itu Almarhum masih bisa mengikuti bacaan itu secara penuh. Lalu Penggugat menelpon ketua RW dan untuk
meminta pertolongan, lalu + 10 menit, ada orang datang tetangga pak RW, bersama-sama naik ke bordes, lalu orang tersebut memegang tangan Almarhum dan Penggugat memanggil nama Almarhum dan Almarhum kembali menoleh ke Penggugat lalu matanya naik ke atas dan Almarhum mulai kejang 2x gerakan lalu ngorok tertidur. Dikarenakan Penggugat tidak mempunyai pengalaman medis, tidak berani berbuat apa-apa kecuali menenangkan dan berdoa. Setelah beberapa menit, Setelah tenang, hampir seluruh anggota rumah ada dan membantu menggotong Almarhum, turun ke lantai bawah, lalu diterlentangkan di atas karpet dan beberapa saat bibirnya mulai berubah agak gelap, lalu langsung dibawa ke Rumah.

3. Bahwa setelah sampai di Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Sehat Sejahtera, saat itu almarhum langsung ditangani oleh Tergugat I, lalu Tergugat I menanyakan kepada Penggugat : kenapa baru dibawa sekarang, jantungnya lemah sekali ?, lalu Penggugat katakan bahwa kejadiannya baru saja terjadi, lalu Tergugat I menanyakan apakah ada penyakit jantung, lalu Penggugat mengatakan tidak ada dan Almarhum sehat sekali, bisa cek ke medical record (rekam medis) Almarhum yang selalu berobat di Rumah Sakit Sehat Sejahtera ini dan terakhir kira-kira 2(dua) tahun lalu sakit demam berdarah dirawat + 3 hari.
Penggugat melihat Tergugat I bersama timnya berusaha melakukan tindakan medis dan saat itu Penggugat sambil berdoa melihat ke layar monitor jantung, denyut jantung almarhum pada angkat 75, lalu sempat turun ke 45 dan naik lagi ke 75 lalu turun lagi sampai ke 45, beberapa saat kemudian Tergugat I meminta ijin kepada Penggugat untuk menyuntik untuk tindakan pertolongan dan mengatakan bilamana dengan suntikan ini tidak berhasil, maka tidak ada pilihan lagi. Lalu Penggugat terus berdoa sambil duduk di lantai, setelah lewat ± 30 menit Tergugat I mengatakan nyawa Almarhum tidak tertolong dan secara medis dinyatakan meninggal dunia dan saat itu Penggugat selaku orang tua hanya bisa pasrah dan berusaha ikhlas atas cobaan tersebut.

4. Bahwa kemudian pada sekitar tanggal 1 September 2018 suami Penggugat dihubungi oleh pihak asuransi dan menyampaikan formulir yang harus diisi oleh Rumah Sakit Sehat Sejahtera, lalu pada tanggal 2 September 2018
suami Penggugat menyerahkan formulir tersebut ke RSPI.

5. Dst.

Berdasarkan alasan- alasan  tersebut diatas, Kami mohon Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan sebagai berikut:

 

PRIMAIR:

  1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
  2. Menyatakan Tergugat I, II dan III telah melakukan perbuatan melawan

hukum terhadap Penggugat;

  1. Memerintahkan Tergugat I untuk merubah dan memperbaiki keterangan

dalam Claim Form/ARM 164P sesuai dengan yang semestinya dalam

jangka waktu paling lambat 1×24 jam setelah putusan aquo dibacakan;

  1. Menghukum Tergugat I, II dan III secara tanggung renteng untuk

membayar ganti rugi kepada Penggugat dengan perincian sebagai

berikut:

  • Kerugian materiil sebesar Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah);
  • Kerugian immateriil sebesar Rp. 20.000.000.000,- (dua puluh miliar

rupiah);

  1. Menghukum Para Tergugat untuk menyampaikan permohonan maaf

kepada Penggugat melalui surat kabar, minimal dalam 3 (tiga) surat kabar

nasional antara lain: Harian Kompas, Media Indonesia dan The Jakarta post

  1. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan (conservatoir beslag ) yang

diletakkan atas barang bergerak dan tidak bergerak berupa tanah dan

bangunan berikut isinya yang terletak  di Jakarta

Selatan yang setempat dikenal dengan nama Rumah Sakit Sehat Sejahtera;

  1. Menghukum Para Tergugat secara tanggung renteng untuk membayar

uang paksa (dwangsom) sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) setiap

hari keterlambatan melaksanakan isi putusan ini;

  1. Menyatakan putusan ini dapat dijalankan terlebih dahulu meskipun ada

upaya hukum banding, verzet  maupun kasasi;

  1. Menghukum Para Tergugat untuk membayar biaya perkara yang timbul

dalam perkara aquo .

 

SUBSIDER :

Apabila Mejelis Hakim yang memeriksan dan mengadili perkara ini berpendapat lain mohon dapat memberikan putusan yang seadil- adilnya ( Ex Aequo Et Bono ).

Demikian gugatan ini Kami ajukan, atas perhatian dan dikabulkannya gugatan ini diucapkan terima kasih.

 

Hormat Kami,

Kuasa Hukum Penggugat:

Sadari, S.H.